Sunday, 22 July 2018

Physical Insecurities: Mencintai Diri Sendiri

Beberapa hari lalu, saya membuat sebuah Instagram story tentang physical insecurity. Saya meyakini bahwa setiap orang pasti punya bagian tubuh yang dibenci, nggak peduli berjuta-juta orang telah bilang, "Kita semua sempurna. Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna. Kita harus mencintai kondisi tubuh kita, bagaimanapun Tuhan menciptakan kita."

The thing is, manusia yang terlahir dengan anggota tubuh lengkap pun merasa kurang. Apakah itu artinya kita adalah makhluk yang tidak tahu terima kasih kepada Tuhannya? Apakah itu berarti kita tidak berempati kepada saudara-saudara kita yang memiliki kekurangan? I don't think so. Hanya karena kita mengeluh, bukan berarti kita tidak berempati. Manusia itu hebat, kita bisa merasakan banyak hal dalam satu waktu. We can feel both sad and happy at the same time.

Di dalam Instagram story yang saya buat, saya bertanya kepada teman-teman saya:

What is your physical insecurity?

Jawabannya cukup membuat saya terkejut. Ternyata banyak juga hal-hal yang membuat kita tidak nyaman dengan diri sendiri. Beberapa di antaranya:

  • Gigi tonggos - padahal saya ngerasa orang ini cantik banget.
  • Semenjak jadi ibu menyusui, payudara jadi gede banget. Nggak pede pake kebaya.
  • Lengan kekar.
  • Bibir kecil, muka kecil, kepala kecil, rambut tipis - I think he's okay, though.
  • Tete kecil - never thought you would feel like this, Sis.
  • Ngerasa ganteng - kayaknya ini orang cuma iseng aja sih ikutan, haha.
  • Betis - nggak ada penjelasan betisnya kenapa, tapi saya rasa, "Betis gede"?
  • Bungkuk - another fine lady feeling insecure about herself.
  • Hidung terlalu mancung - saya rasa ini adalah sarkasme-nya dia sih, soalnya teman yang satu ini sering digodain pesek.
  • Rambut rontok - kayaknya laki-laki insecure dengan kerontokan ya?
  • Gendut - frequent answers. 
  • Mata panda, gigi spasi - another pretty girl.
  • Bibir tebel, nggak pede.
  • Pantat gede tapi kepala kecil, ngerasa nggak proporsional.
  • Muka lebar, paha gede.
  • Bokong gede.
  • Jerawat. 
Ternyata orang-orang di sekitar saya pun merasa banyak kekurangan. Mereka masih merasa bahwa kondisi fisik mereka tidak sempurna, dan patut untuk dikeluhkan.

You know what? I think that's really okay!

Selama ini kita dituntut untuk mencintai diri sendiri. Saya sendiri bagaimana? Saya cinta kok dengan diri saya. Makanya saya merawat diri. Mandi setiap hari (saya biasanya mandi satu kali sehari. Mohon maaf ya kalau menurutmu jorok, hahaha), pakai skincare, gosok gigi secara teratur, memakai deodoran, memakai lotion, berdandan, memakai baju yang bersih dan tidak berbau tidak enak, menyemprotkan parfum, menjaga pola makan, dan lain sebagainya.

Selama 26 tahun saya hidup di dunia, saya tidak pernah gemuk. Saya selalu kurus. Sebelum beranjak remaja, saya kesal kalau dipanggil kurus, kayak lidi, kayak belalang, kayak ini kayak itu. Rasanya sedih. Beranjak SMP, saya dipanggil tonggos. That's where I found another insecurity about myself. I got a set of teeth that looked like rabbit teeth or rat's teeth. I wasn't confident with myself. I wanted to get braces, but my family couldn't afford that. What should I do? I decided to embrace it and not make a fuss about it. They kept calling me tonggos but it did not hurt me anymore.

Masuk SMA, masih kurus.
Masuk kuliah, masih kurus.

Masa perkuliahan sama kerja kali ya, yang bikin saya galau banget sama bentuk tubuh dan berat badan. Banyak yang iri dengan berat badan saya. Sebanyak apapun makanan yang masuk ke tubuh saya, nggak akan menambah berat badan saya. It stays. 

"Enak ya, Suvi. Makannya banyak tapi badannya segitu-gitu aja."

Saking banyaknya yang bilang begitu, akhirnya saya menganggapnya sebagai pujian. Saya menganggapnya sebagai sebuah pencapaian. Tidak semua orang bisa seperti saya. Ternyata, insecurity saya bermula dari sini, Saudara-Saudara sekalian.

Suatu ketika, di bulan puasa, saya malas sekali mencari makanan baik untuk sahur maupun berbuka puasa. Saat itu saya masih berada di Cikarang, meskipun perkuliahan sudah libur. Saya memiliki beberapa kegiatan di kampus, and I stayed for those. Saya makan seadanya, dan menyadari bahwa saya kehilangan 6 kilogram dalam waktu 2 minggu saja! Pipi saya terlihat tirus dan entah kenapa saya merasa lebih cantik. WOW.

2 bulan setelahnya, saya mendapat sebuah project untuk menjadi panitia acara pertukaran pelajar yang diadakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Saya dan teman-teman lain yang terlibat diberikan fasilitas menginap di hotel selama kurang lebih 2 minggu, dan saya kalap ketika makan, karena memang enak sekali. Sepulangnya dari lokasi, berat badan saya naik kembali sebanyak 6 kilogram, dan PERUT SAYA BUNCIT! Ketimbang memikirkan kenaikan berat badan, saya lebih takut dengan buncitnya perut saya. Saya merasa begah setiap saat. Saya merasa perut saya bisa meledak sewaktu-waktu, dan saya merasa bentuk badan saya jadi aneh. Perut buncit... There's nothing good with it!

Karena tidak berolahraga secara rutin, saya pun menemukan kesulitan mengembalikan kondisi perut saya seperti sediakala. Butuh waktu berbulan-bulan hingga saya merasa perut saya rata kembali.

Memasuki masa-masa bekerja, kondisi kesehatan saya mulai memburuk.

Memburuk gimana sih, Suv?

 Perut jadi gampang buncit, cepet pusing, gampang lemes (seringnya sih ya karena memang jarang olahraga), dan lain-lain. Berat badan stabil, tapi justru saya menemukan insecurities lain dengan tubuh saya. Kenapa jika berat badan saya naik, badan saya membesar di bagian-bagian tertentu dan tidak merata? Paha, pipi, lengan, perut. Saya nggak punya masalah dengan kenaikan berat badan, asalkan proporsional. My current stable weight is 47-48 kilograms. I get scared once it hits 50-ish, especially when the increase only contributes to several parts of my body. It sucks.

Puncaknya adalah tahun 2017 bulan April, ketika saya terkena tipes. Saya nggak pernah sakit parah selama hidup, jadi pertama kalinya saya kena tipes, saya merasa sangat lemah. Setelahnya, saya berniat untuk memperbaiki pola makan. I usually eat whatever I want. I have the money to buy food, so why not? Setelahnya, saya mulai menjaga asupan makan. Saya nggak diet, saya juga nggak menghitung nutrisi yang masuk ke tubuh saya, tapi saya berusaha makan dengan seimbang setiap harinya. Sudahkah saya poop hari ini? Sudahkah saya makan sayur atau buah? Bagaimana dengan protein? Berapa gelas kopi yang masuk ke kerongkongan hingga sore ini? Berapa gelas air?

Something like that.

Beberapa bulan lalu, berat badan saya tiba-tiba mencapai 50 kilogram dan saya syok. Saya nggak mau berat badan saya kepala lima! Gimana kalau nggak bisa diturunin lagi??

Then I got my heart broken and it easily helped me lose weight. I lost about 3 kilograms in a week.

Dan saya memutuskan untuk membuatnya menjadi titik awal (lagi). Apa yang saya lakukan sekarang untuk menjaga pola makan dan berat badan saya:
  • I've stopped eating instant noodles since April 2017 (and discovered healthy instant noodle from Lemonilo just a couple days ago. It tastes amazing.)
  • Saya selalu sarapan makanan ringan, ditambah buah. Kalau buahnya nggak habis, saya bisa menjadikannya cemilan menjelang siang. Perut tetap kenyang, cemilannya sehat.
  • Saya menyeduh teh atau kopi di pagi hari, lumayan memenuhi asupan gula harian. Jika saya minum kopi jam 9 pagi, biasanya saya kebelet pup di jam 10.00-10.30 pagi. Lumayan kan, metabolisme saya?
  • Saya selalu punya stok cemilan di laci kantor (you can definitely ask my colleagues), tapi akhir-akhir ini saya membeli granola untuk cemilan. Makan granola cepet bikin bosan, jadi 1 bungkus granola (lupa merknya, tapi bisa di-zip kembali) biasanya baru habis setelah 1 minggu. Lumayan, bukan?
  • Saya masih BANGET makan micin kok, tapi ya jangan banyak-banyak dan jangan sering-sering.
  • ALWAYS SAY YES TO FREE FOOD! Ada pizza gratis di kantor? Martabak manis yang kejunya tumpah-tumpah? Ya dimakanlah! Ngapain juga diliatin doang?
  • Beli makan sebelum pulang ke kosan. Biasanya saya pulang selepas maghrib, jadi beli makan dulu, baru ke kosan. Kalau ke kosan dulu, nanti jam 8-9 laper, terus males keluar, terus jadi pesan-antar. Lebih mahal, belum tentu habis, kemudian besok pagi perutnya buncit karena makan kemaleman. Hahahaha.
  • Rutin berpuasa. Saya baru menjalankannya 2 minggu, so I still have a long way to go. Bagi saya, puasa tidak hanya membantu kita menahan hawa napsu, tapi juga cleansing pencernaan. Just remember the healthy purpose of Ramadan fasting, and apply it routine.
 Jadi, kalau ada yang nanya ke saya, "Suvi, diet? Ngapain diet sih kan udah kurus?", kadang saya iyakan, kadang saya sanggah. Jika saya diet agar tetap kurus, benar juga sih. Sekarang saya punya ketakutan untuk jadi gemuk, jadi saya mengatur pola makan. Lebih dari itu, saya ingin makan sehat agar di masa tua saya, saya nggak terkena komplikasi penyakit. Amiiin.

I think it's good to have insecurities as long as you take it as a motivation to be better. Try to embrace your weakness, and turn it to something great. I admit my physical insecurity when I was in college, I told everyone that I wasn't confident with my teeth, and instead, they told me it's not a big deal. I felt so relieved. No one talks bad about my teeth afterwards.

Everyone holds at least one physical insecurity, no matter how perfect they look like. We just don't know it. Let them be. They need support and good words, bukan kalimat-kalimat yang menjatuhkan, berkesan negatif, dan menurunkan rasa percaya diri mereka.

Ada yang bilang, satu cara mencari solusi atas sebuah masalah adalah dengan mengakui bahwa kita punya masalah terlebih dahulu. Dengan begitu, kita bisa fokus mencari jalan keluarnya.


Ngemeng apa sih, Suv?
Hahahaha.

Udah ah nulisnya, capek.

See you later!

Thursday, 12 July 2018

Hereditary (2018): How I Feel About This Movie?

Image Courtesy: IMDb.com





SPOILER ALERT!
So you might want to skip this post if you haven't seen the movie and don't want to get spoiled.
Either way, you can continue reading!

Postingan saya kali ini bukan mau review film yah, saya nggak mampu memberikan review secara profesional, jadi saya hanya akan menceritakan perasaan saya setelah menonton film yang satu ini. This movie leaves a quite big impression on me, so I need to write it.

Film ini sangat membekas, saya nggak bisa berhenti memikirkan/membicarakan film ini sejak saya menontonnya 2 hari lalu. Saya mencari-cari teman-teman yang sudah menonton dan membahasnya berkali-kali. Hahahaha.

Penasaran nonton karena Joko Anwar bilang filmnya bagus, and some say this movie is an upgraded version of  Pengabdi Setan. Jadi, saya penasaran. Pergilah saya menonton.

Agak menyesal juga sih nonton di bioskop. Saya merasa ketakutan. Ya Allah, filmnya serem banget! Mau pulang ajaaa! Merupakan pemikiran yang paling sering terlontar di dalam hati sepanjang 2 jam filmnya berlangsung. Untungnya saya bisa menikmati film ini, nggak seperti ketika menonton The Killing of  A Sacred Deer (bener-bener mual).

Saya, ketika menonton film horror, biasanya nggak memperhatikan nama-nama karakter. Taunya hanya "Emaknya", "Bapaknya", "Anak yang paling gede", semacam itu. Begitupun ketika menonton Hereditary. Hapalnya hanya status karakter di dalam keluarga tersebut (dan maksimal nama depannya).

Hereditary diawali dengan meninggalnya seorang nenek-nenek di satu keluarga. Ternyata, Nenek meninggalkan misteri untuk keluarga yang ia tinggalkan. Saya nggak pernah yakin atas kedekatan anggota keluarga Graham, soalnya terasa aneh. Annie (Si Emak) ini sedih nggak sih atas kematian ibunya? Yang kelihatan jelas-jelas sedih hanya si Charlie (Anak Yang Kecil). Ternyata Charlie emang favorit neneknya, paling disayang. Menurut saya, hubungan keluarga Graham ini memang agak renggang. They live together only because they're family. Kalau nggak, ya mungkin udah pada misah kali hidupnya? Soalnya, affection juga nggak diperlihatkan secara jelas di film ini.

Charlie ini udah terasa aneh banget sih karakternya. Suka menggambar, menyendiri, ngomongnya rada aneh. Masa, dia ngomong ke Emaknya begini, "Mak, siapa yang ngurus aku nanti kalau Emak mati?"

What the hell, Dude?

Secara tiba-tiba gitu loh. Hahahaha. Damn.

Terus keluarga Graham ini juga aneh banget, tinggal di pinggir hutan pinus (?) gitu, dan jauh dari mana-mana. Kalau mau pergi/pulang sekolah atau pergi ke tempat lain, mereka harus ngelewatin padang pasir semacam savana gitu, dan sepi banget. Siapa pula yang mau tinggal di tempat seperti itu? Ketika malam, serem banget rumahnyaaa! Oh ya, they also own one tree house.

Charlie has peanut allergy. Dijelaskan sewaktu Charlie ngegigit coklat di rumah duka, dan orang tuanya nanya apakah coklat yang dia makan ada kacangnya. Dijawab nggak oleh Charlie.

Kemudian, suatu hari, Charlie disuruh ikut kakaknya (namanya Peter) pergi ke pesta. Yang nyuruh Emaknya sih. Ikutlah yakan.

Terus Charlie ditinggal sama Peter buat ngeganja gitu. Charlie akhirnya makan kue coklat (yang mengandung hal yang bikin alerginya kambuh). Ngerasa sesak, Charlie minta pulang ke Peter. Si Peter, udah mah setengah ngefly, harus nyetir juga. Charlie ditidurin di jok penumpang belakang, udah nendang ke sana-sini karena nggak kuat dengan alerginya. Peter ngebut, soalnya ngejar waktu sampai ke rumah/rumah sakit. He drove for like 80-100 mph. Nyetir sekencang itu di jalanan yang sepi banget.

Charlie yang ngerasa sesak nggak tertahankan, memutuskan buat ngeluarin kepala (dan setengah badan) dari jendela mobil. Lah kok ya tiba-tiba ada anjing mati di tengah jalan, Peter harus banting setir ke tepi...... Terus tau-tau aja ada frame mukanya Charlie, terus ada tiang listrik gitu.

Terus ada bunyi GEDEBUK!

Tau lah ya apa yang terjadi kemudian.

Tapi entah kenapa nggak langsung diperlihatkan.

Cuma ada adegan Peter ngeliat cermin tengah mobil, terus dia nanya ke Charlie "...You okay?" Nggak ada jawaban. Peter lanjut aja gitu nyetir pulang ke rumah.

I knew something was wrong. Something had went terribly. But! I did not want to conclude anything before I saw what happened. Before they showed us what actually happened. So I opened my eyes very carefully.

Peter nyampe rumah, nggak ngebukain pintu buat Charlie, tapi langsung masuk aja ke rumahnya. Emak-Bapaknya bercakap-cakap semacam ,"Tuh mereka udah pulang". Tapi nggak berinisiasi untuk ngecek anaknya atau gimana. Peter masuk ke kamarnya, terus masuk ke dalam selimut.

INI PASTI ADA YANG SALAH!!!!! PASTI BANGET!!! PASTI CHARLIENYA MATI KAN? TAPI GIMANA MATINYA? KEPALANYA KEBENTUR TIANG SEKENCENG ITU, PASTI MATI KAN? TAPI MATINYA GIMANA?

Segala spekulasi dan tekanan jiwa merasuk raga. Yaelaaaah cepetan napa kasi liat gimana jadinyaa!

Adegan beralih close up ke wajahnya Peter dengan tatapannya yang udah kosong banget. Terus tiba-tiba ada teriakan miris banget dari Emaknya. Sedih banget lah pokoknya. Terus Emaknya teriak-teriak histeris nggak jelas gitu, bilang pengen mati aja, nggak mau hidup lagi. Kenapa anaknya kayak begitu....

NAH KAN BENER CHARLIENYA MATI KAN?? TAPI MATINYA GIMANA?

Terus tiba-tiba ada  scene kepalanya Charlie dikerubungin lalat. Di pinggir jalan. Di siang bolong. Kepalanya ternyata putus, Coy! Kepalanya nggak pernah bisa balik ke rumah! Charlie yang ada di dalam mobil itu.... Nggak ada kepalanya. Ya Allah ya Tuhanku huhu.

FAK. THE GRAPHIC WAS SO.... OH MY GOD. OH MY GOD. Saya nggak tau gimana caranya ngehilangin visual itu dari kepala saya sekarang.

Bisa ngebayangin nggak, jadi seorang kakak, nyetir buat adeknya karena alergi adeknya kambuh, terus malah nabrak tiang, terus kepalanya potel. Mau ngomong ke orang tua juga ga berani kali! Abis itu malah pergi ke kamar dan diam sampai pagi :((( Terus paginya denger tangisan Ibu yang sangat memilukan.

The tense. Oh God. I couldn't handle it well. It was so frustrating, but I had to keep watching. I wanted to know what happens, and how the movie would end.

Adegan itu terlalu berkesan untuk saya, jadi saya nggak begitu menghiraukan adegan-adegan setelahnya, sampai....

Annie neriakin Peter di meja makan. Aktingnya Toni Collette (yang jadi Si Emak) wow banget sih di sini. Saya nggak bisa ngebayangin rasanya kalau Ibu saya berteriak seperti itu, menyalahkan saya atas kecelakaan yang sudah terjadi. I might have committed suicide. Why should I live in a family that does not love me? Why should I hold on with a mother who resents me? Well, at least I'd runaway from home, for sure. Get a new life.

Ceritanya berlanjut tentang bagaimana keluarga Graham menjalani hidup mereka yang suram setelah kematian Charlie. Suram, nggak ada semangat hidup. Kayak ngejalanin hidup masing-masing, karena memang mereka semua terpukul, trauma atas apa yang udah terjadi. Emak dan Bapak sudah mengonsumsi obat penenang supaya bisa tidur. Peter.... Saya nggak bisa ngebayangin gimana dia bisa tidur setelahnya. Pasti kebayang-bayang terus seumur hidupnya. Dia nggak akan memaafkan dirinya sendiri.

Kemudian, Annie ketemu sama orang namanya Joan yang baiiiiiik banget, ga ketulungan. Udah sempet curiga sih, dan ternyata emang bener. Joan ini yang menjerumuskan Annie semakin dalam ke kegelapan. Diajarin cara manggil arwah, ceritanya untuk manggil arwahnya Charlie. Makin-makinlah si Annie keganggu pikirannya kan.

Dilakukanlah ritual pemanggilan arwah itu... dan berhasil. Annie jadi terobsesi, kemudian kebiasaan dia untuk tidur sambil berjalan kembali lagi (yang membahayakan Peter). Annie bahkan sempet bilang ke Peter, "I never wanted to be your mother." Sakit banget pasti rasanya. Peter beberapa kali hampir dibunuh sama Annie secara nggak sadar.

Endingnya absurd banget. Annie meriksa loteng untuk nyari tahu masa lalu emaknya, nemuin buku-buku sekte memuja sesuatu yang nggak jelas, pake pengorbanan segala. Terus... di loteng itu dia nemu mayat Si Nenek... tanpa kepala. Si Bapak menuduh Annie-lah yang sebenernya ngebongkar kuburan Si Nenek dengan sleep-walkingnya. Absurd banget kan.

Annie akhirnya bilang ke suaminya kalo dialah satu-satunya yang bisa mengakhiri ini. Ngebakar buku punya Charlie yang jadi medium pemanggilan arwah, yang malah... Ngebakar suaminya. Don't ask me how that happened. I don't have any idea.

Peter ngeliat Bapaknya udah gosong, terus dia ngerasain sesuatu yang nggak beres. Emaknya tiba-tiba hinggap di langit-langit ruang tengah, Bung! Takut dibunuh emaknya juga, Peter lari... terus ngabur ke loteng. IYA, KE LOTENG!

Wah, bunyi apa tuh???
Wah, kok ada tetesan darah???

Ternyata, Emaknya (si Annie) levitasi aja gitu ke langit-langit loteng... dan MENGGOROK LEHERNYA SENDIRI!!! Pelan-pelan, terus makin lama makin cepet, kayak orang ngegergaji.

F*CK.
WHY.
JUST WHY.
OH MY GOD, MY EYES HURT.
WHY SO GRAPHIC.
WHY...
HUHU
WANNA CRY.

Terus si Peter lari... Masuk ke dalam rumah pohon, terus udah ada umat sekte yang dulu diikuti Neneknya, dan... Nyembah dia.
Mereka merasa bahwa Peter merupakan wadah buat Paimon (?) yang mereka puja.
Whatever that means.

Beres nonton nyesel sih. Visualnya nggak gampang dilupakan dan nggak menyenangkan untuk diingat. AAAAAARRRGGGHHH.
Saya bisa tidur malam itu, tapi terbangun ketika subuh dengan perasaan yang campur aduk karena nginget adegan Charlie kejedot tiang listrik, kepalanya yang potel dan dikerubungi lalat (atau serangga apapun deh), sama adegan emaknya ngegorok leher sendiri.
Sakit banget ni film.

Serem, tapi nggak pake hantu.
Nyakitin pikiran dan jiwa.
Kalo ngerasa depresi, stress, mendingan hati-hati deh nonton film ini. Salah-salah malah terinspirasi.
Nontonnya sama temen atau siapapun, tapi saya saranin jangan sendirian, kalo emang nggak terbiasa sama film horror/thriller/depressing.

Untuk ukuran film horror, buat saya Hereditary oke banget sih. Super duper oke karena bener-bener nakutin.

I will definitely watch this movie again, but surely not in the near future.
And definitely not alone.



P.S.
Hereby some links I read that I think are useful to enrich us regarding Hereditary.
Enjoy!
Annie dan Kreativitasnya
Film Review: ‘Hereditary’
‘Hereditary’ Ending Explained: What the Hell Happened?

Saturday, 14 April 2018

Menikmati Menonton Film dan Bahagia Karenanya

Beberapa waktu lalu, saya menyempatkan diri menonton film berjudul "A Quiet Place". Sebuah film yang menceritakan tentang satu keluarga yang mencoba bertahan hidup di dunia tanpa suara. Jika mereka bersuara dan terdengar, maka akan datang (secepat kilat) seekor monster yang langsung melahap pelakunya. A Quiet Place berhasil membuat saya emosional, gemas, dan keluar dari teater dengan perasaan campur aduk, tapi puas. Saya menyukai film itu!

Sebelum film A Quiet Place dimulai, saya menonton trailer film berjudul Rampage. Dibintangi oleh Dwayne Johnson (The Rock), segera saya berasumsi bahwa film ini bukan film "serius". Paling tidak, setengahnya akan diisi oleh aksi-aksi hampir mustahil namun seru, dan paling tidak akan ada beberapa adegan yang lucu, penuh humor. Rampage merupakan film adaptasi dari game. Siang tadi saya menontonnya, dan saya merasa puas. Pertarungan antar hewan-hewan hasil kontaminasi rekayasa genetika yang ditampilkan begitu believeable, dan menegangkan. I feel happy by the time I walk out of the theater.

Sebelum menonton Rampage, saya menyempatkan diri melihat rating-nya di situs IMDb dan Rotten Tomatoes. Rotten Tomatoes memberinya rating 53% (rotten) yang kurang lebih artinya film itu tidak begitu disukai. Namun, ternyata Rampage merupakan film adaptasi game yang mendapat rating tertinggi dari RT. Wow, lumayan juga, bukan?

Capek juga ya nulis baku banget. Huhuhu.

Setelah selesai nonton A Quiet Place dan Rampage, saya jadi mikir.
"Sebenernya apa sih yang kita cari dari menonton film?"

Apakah kita mau sok-sokan bikin resensi di media sosial supaya terlihat keren?
Apa kita mau buat unpopular opinion terhadap sesuatu yang sedang terkenal?
Misalnya: ketika banyak orang memuji film Dilan 1990, kita akan menjadi satu dari sedikit orang yang membencinya, kemudian mengkritik film itu habis-habisan.
Bukan berarti orang yang memiliki unpopular opinion adalah seorang yang snob ya.
Saya hanya berasumsi.

Saya senang menonton film sejak saya kecil. Pertama kali pergi nonton di bioskop, saya sangat takjub melihat ada layar yang begitu besar dan dapat menampilkan film-film yang amat bagus. Film-film yang kualitasnya jauh lebih bagus ketimbang sinetron yang ditayangkan di televisi.

Saya mengagumi Harry Potter sejak film keduanya (sebab film itu yang pertama saya tonton). I fell in love right after I watched The Lord of the Rings trilogy, and I love them ever since, until eternity.
Saya menonton post credits film-film keluaran Marvel sejak awal. Saya merasakan ditungguin mas-mas bioskop yang ingin bersih-bersih dan belum bisa, hanya karena masih ada beberapa orang yang dengan setia menunggu cuplikan film Marvel selanjutnya. Saya merasakan post credit Marvel itu TIDAK DITAYANGKAN, karena filmnya dipotong dengan sengaja tepat begitu filmnya selesai. I felt so betrayed. 

I was a movie snob without any cinematic knowledge. I just hated people who knew about the anomaly of the industry recently and acted like they knew it all.

Sangat menyebalkan, bukan?

Kemudian saya mikir, "Apa sih untungnya buat saya dengan memiliki pandangan seperti itu? Nggak ada!" Apa salahnya banyak orang menyukai apa yang saya sukai? Toh saya bukan orang yang tahu segalanya.

Kemudian ada masanya ketika saya sok-sokan HARUS menonton sebanyak-banyaknya film yang masuk nominasi Best Picture di Academy Awards, supaya saya bisa membanggakan diri saya sendiri, "Aku udah nonton loh!"

Kemudian saya menonton The Artist, pemenang Oscar tahun 2014 kalau nggak salah. DAN SAYA MENGANTUK GUYYYYSSS. Saya belum bisa menyelesaikan Grand Budapest Hotel karena saya bosan di menit-menit awal.

Aku ingin terlihat keren dan berwawasan luas, huhuhu.

Then life got hard.

And then I decided to give zero f**k of that matter. I decided to watch anything I want, to not watch anything I want, and to like and dislike any movie honestly. I promise myself that I will not force myself to like any movie just because it won tens of awards. And my life has been so much easier ever since.

Saya memutuskan untuk menonton film agar saya bahagia.
Saya menyukai film horor. Saya menyukai thriller. Saya menyukai film action, fantasy, dan lain-lain, terserah saya.
Saya sedang menghindari film yang menguras air mata dan tidak berakhir bahagia, kecuali film-film yang sudah terlanjur saya ikuti serialnya (misalnya Transformers dan Ape's series). 

The Killing of a Sacred Deer, adalah film yang banyak dipuji kritikus, tapi saya benci setengah mati.
Saya menontonnya menggunakan promo (jadi harga tiketnya sangat murah), tapi tetap saja saya merasa rugi. Film itu membuat saya sangat nggak nyaman, takut, jijik, mual, dan rasa nggak menyenangkan lainnya.

"Tujuan filmnya emang itu, Suv!"

BODO AMAAAAAAT. I WILL HATE THE MOVIE WITH ALL MY HEART.

HUHUHUHU.

Ketika saya sangat menyukai sebuah film, saya pasti membandingkan selera saya dengan beberapa akun di media sosial. Pasti adaaaaa saja yang selalu negatif. Film apapun yang sedang populer, langsung dikritik dan dikomentari secara negatif habis-habisan oleh akun tersebut. Ready Player One, misalnya. Saya merasa sangat bahagia setelah menonton film itu. Sayangnya, film itu dibenci oleh satu-dua akun yang saya follow. Di situ saya berpikir, "Masalah hidupnya apa ya, sampai-sampai film ini dibenci banget?"

Tidak ada film yang sempurna, saya akui. Tapi, terkadang saya mengesampingkan beberapa hal untuk meningkatkan kadar bahagia saya. Film-film Marvel, misalnya. We all know that the franchise sells its A-list movie stars, all the CGI technology, those shiny Iron Man suits, all the explosions, and the MCU itself. Kadang saya nggak berharap banyak dengan alur ceritanya (apalagi moral of the story, nggak ada waktu mikirinnya!). Saya memang mencari hype, menunggu kekerenan apalagi yang akan ditampilkan oleh Marvel. Dengan begitu saya akan bahagia.

Menonton Pengabdi Setan. I don't effing care about the story plot. It's a horror movie. I want to feel scared. As long as the movie haunts me, it exceeds my expectations. Masuk akal, itu sudah cukup. Sempurna? Tidak perlu.

Saya bahkan belum bisa menyelesaikan The Godfather Trilogy dan Star Wars Series. Saya ingin terlihat keren dengan menyelesaikan film-film itu kemudian ngefans. Tapi belum bisa, jadi ya tidak usah dipaksakan. Saya mengerti, saya bisa nyambung kalau diajak ngobrol, saya sudah senang kok. Banyak hal yang tidak perlu kita paksakan. Nggak perlu sok-sokan jadi ahli kalau memang tidak bisa dan tidak ingin hanya agar dianggap keren oleh teman-teman.

Akhir kata, Ingsun titip tajug lan fakir miskin, seperti kata Sunan Gunung Jati.

Nggak ding.

Maaf garing.

Lakukanlah hal yang membuatmu bahagia. Selama nggak merugikan orang lain, jangan pikirin perkataan-perkataan negatif yang datang. Kalau dengan menonton filmnya Raditya Dika bisa membuatmu bahagia, lakukanlah! Kalau menurutmu DC lebih baik dari Marvel, saya bodo amat. Tidak peduli. Saya menonton dua-duanya (meskipun saya tim Marvel).

Sayapun senang-senang saja join the hype dari film-film yang terkenal. Saya happy to be mainstream. Nggak ada yang salah dengan hal itu. Nggak usah maksa-maksain jadi hipster kalau malah membuat nggak nyaman.

Sudah ya. Saya mau lanjut baca Aroma Karsa lagi. Nanggung!

Monday, 25 September 2017

Jakarta and All of Its Complexities

Jakarta selalu punya cerita. What I like the most from this city is that everything is always happening. Banyak inspirasi bisa didapat, ide-ide bisa dikembangkan, bahkan kepenatan bisa jadi karya.

My highlight of the day adalah Bapak-Bapak kurir, kurir apapun itu. Pengantar katering, pengemudi transportasi online (GoJek, Grab, Uber, dan lain-lain). Kantor saya terletak di lantai 30 sebuah gedung di Jakarta, jadi harus naik lift kalau ingin mencapainya. Di dalam lift, saya ketemu dengan Bapak-Bapak yang membawa plastik berisikan entah susu almond, atau racikan smoothies untuk makan siang seseorang. Di lantai 20-an, beliau turun dari lift. Tiba-tiba saya teringat Bapak saya sendiri. How if that guy were my father? Nggak, saya bukannya mau mendiskreditkan si Bapak Kurir. Hanya saja, saya menyadari bahwa tidak semua orang ingin menjadi kurir katering. Mungkin tidak semua orang bangga akan profesinya sebagai seorang kurir makanan seseorang.

Saya belajar banyak bersyukur dengan tinggal di Jakarta. Saya bisa makan apa yang saya mau, bisa beli apa yang saya mau, saya bisa melakukan apa yang saya inginkan. Ketika bertemu dengan Bapak Kurir, hati saya terenyuh.

Ketika berumur segitu, bagaimana posisi saya di kantor? Di manakah saya bekerja? Bagaimana dengan istri dan anak dari Bapak Kurir? Apakah mereka bisa makan kenyang setiap hari?

-          Intermezzo: I still have that bad habit of not be able to finish most of my meal. I always try to ask for a half portion wherever I eat, but sometimes I just cannot handle it. My appetite changes based on my mood.

Berani-beraninya saya nggak menghabiskan makanan, ketika Bapak Kurir berjuang mencari nafkah sebegitu susahnya. Berani-beraninya saya mengeluh soal pekerjaan, ketika memiliki pekerjaan sudah menjadi priviledge tersendiri untuk saya? Bagaimana perasaan Bapak Kurir ketika dia mengantarkan makanan seharga di atas 50 ribu rupiah, ketika uang itu bisa dipakai makan sehari tiga kali oleh seluruh anggota keluarganya?

Beberapa hari lalu, saya dan teman-teman saya makan di sebuah cafe yang terletak di dalam salah satu mall di Jakarta. Rada zonk sih, karena kami inginnya makan yang terjangkau. Ternyata, harga makanan paling murah di sana adalah cream soup, yang harganya 50 ribu rupiah. Alamak, kenyang tidak, mahal pula.

Berenam, kami menghabiskan uang sekitar 700 ribu rupiah, dan tidak semuanya makan berat. Kami berenam sanggup membayarnya, tapi masalahnya bukan itu. The problem is that we were okay to pay such amount only for one-time meal. Pada zaman kuliah, uang 700 ribu rupiah bisa menghidupi saya untuk 2-3 minggu. Bapak Kurir might think young adults like us were spoiled brats, even though we paid the meals by ourselves, from our own pocket money.

When I looked at Bapak Kurir’s expression inside the lift, I feel pity. I started wondering if Bapak Kurir actually had to give up on his dreams only to survive in Jakarta. We all remember how Jakarta is considered as the city where your dreams come true? Well, no one can guarantee. We all also know that Jakarta is the city where many dreams are shattered. Broken into pieces.

For me, Jakarta is always inspirational. It’s always moving, so dynamic that sometimes we have no time to think and decide. We only take actions. Because that’s the easiest thing to do and adapt to the situation.

Sometimes Jakarta is so cruel, more cruel than other cities. Jakarta is the most digital city in Indonesia, that we only show our sympathies through internet. Just like what I do today.

I might do nothing to help Bapak Kurir. All I do is write what’s on my mind, and share it to my blog, hoping many people would read it and think the same way. That we are spoiled, and we haven’t been grateful enough. We waste many things: money, time, energy, love, passion.


To survive.

Sunday, 30 July 2017

I Am 25 Years Old and This Is How I (Currently) Think About Marriage

I turn 25 years old this year (it's 2017). Buat ukuran perempuan Indonesia, umur-umur segini emang udah rawan banget ditanyain, "Kapan nikah?" atau "Kapan nyusul?". Nggak terhitung sih udah berapa ribu orang yang nanya ke saya hal itu. Jawaban saya pun bisa macam-macam:

"Besok lah, kalau nggak hujan."
"Nanti hari Sabtu."
"Nunggu ada yang ngelamar."
"Santai lah, masih pengen sendiri."
"Wah, mau ngebiayain ya?"
"Gak usah nanya-nanya deh kalo nggak bakalan nyumbang."
"Doain ya secepatnya."
"Bentar, nunggu bisa resign tanpa bayar penalti."
Dan berbagai macam jawaban lainnya, yang manapun yang terpikir duluan.

Manusia emang banyak macemnya sih, dengan berbagai karakteristik. Ada yang rasa ingin tahunya melebihi tinggi Empire State Building, otaknya lebih miring dari Menara Miring Pisa, dan lebih absurd dari Stonehenge. Nggak kenal deket, tapi nanyain hal-hal pribadi. Kalau emang kenal deket sih ngejawabnya enak ya, bisa santai. Sayangnya, lebih banyak yang cuma basa-basi-busuk padahal sebenarnya nggak peduli. Saya pun nggak ngerti motif di balik pertanyaannya apa.

Selain karena masih senang melajang, ada beberapa faktor lain sih yang membuat saya belum menikah hingga tahun ini. Kemudian tentu saja muncul berbagai macam komentar:

"Yakin Suv gak mau nikah cepet-cepet? Mau nunggu sampai kapan? Umur kamu makin nambah lho, yakin pacar kamu yang sekarang bakalan masih mau sama kamu? Mending dia nyari yang lebih muda, lebih cantik. Pasti banyak yang mau deh."

Sakit hati sih dibilangin gitu. I feel underestimated. Who the hell they think they are? Tapi ya bagaimana lagi, namanya juga mulut orang, komentarnya nggak bisa ditahan. Saya hanya bisa tersenyum dan menjawab seadanya.

Meskipun belum menikah, tapi saya paham betul bahwa menikah itu butuh persiapan matang. Nggak bisa hanya didasarkan atas suka-sama-suka, keinginan untuk punya hubungan "halal" ataupun karena ingin hidup bersama. I know marriage means more than that, and I know that my boyfriend and me still need to take care of many things before we really decide to jump into marriage.

Halah klise banget sih lo ngomongnya, Suv. 

Judge me as you like. It's not like I care a bit about it.

Tapi segalanya bisa berubah kok kalau orang tua sudah bertitah. Hehehe.

Salah satu yang menjadi pertimbangan saya dalam pernikahan adalah: will I stop working and be a full-time housewife? Pacar saya memang nggak pernah memaksakan kehendaknya, bahwa saya harus bekerja atau harus jadi ibu rumah tangga secara penuh. Ia akan selalu mendukung segala keputusan dan keinginan saya (at least sampai saat ini sih begitu). Tapi, tentu saja saya akan memikirkannya lebih lanjut, lagi dan lagi.

Sebagai perempuan yang bercita-cita ingin hidup mandiri tanpa bergantung dengan orang lain, saya tentu ingin tetap bekerja meskipun sudah menikah. Saya paham, dalam agama yang saya yakini, laki-laki bertanggung jawab menafkahi saya lahir dan batin. Tetapi, saya sudah diajari menjadi mandiri oleh kedua orang tua saya sejak kecil, sekarang pun saya sudah punya penghasilan sendiri. Rasanya, saya akan merasa aneh ketika nantinya harus "minta" uang lagi ke suami. Besides, women needs to buy many things, right? Bags, shoes, clothes, make up, and many more~ Kalau nanti suami mau membiayai sih alhamdulillah yaaah, puji Tuhan~

Di sisi lain, jelas saya inginnya di rumah saja. Ngurus rumah, ngurus anak, berbakti pada suami jiwa dan raga (ahelah). Apalagi kalau jadi menikah dengan pacar yang sekarang, hidup kami akan berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain keliling Indonesia. It will be really hard for me to look for a steady-full time job. Palingan yaaa freelance. Belum lagi nanti kalau punya anak. Harus pindah sekolah, daftar ulang di sana-sini, berpisah dengan teman-teman lama dan berteman dengan orang-orang baru. We still have so many things to prepare. Belum lagi beli rumah dan kendaraan....
We have not planned until that far.

For now, the farthest we can prepare is the wedding money.
Mohon doanya ya, semuanya.

The last but not least, terima kasih karena telah menyempatkan waktu untuk membaca tulisan ini.
Have a nice day!

Monday, 24 July 2017

Cerita Tentang Berkerudung

Saya berumur 25 di tahun 2017 ini. Saya beragama Islam seumur hidup saya, dan telah memutuskan untuk berkerudung sejak tahun 2008. Berarti, sudah 9 tahun saya berkerudung.

Pengalaman berkerudung saya bisa dibilang cukup mudah. Hampir tidak ada yang menjelek-jelekkan saya (paling tidak, secara langsung ke hadapan wajah saya), or simply because I choose to be indifferent of all negative comments. Either way, I am at ease.

Yang orang-orang tahu tapi kebanyakan memilih tidak peduli, adalah fakta bahwa berkerudung itu sebenarnya tidak mudah. Berkerudung bisa saja hanya perihal cara berpakaian, tapi filosofi berkerudung yang diusung seseorang menjadi begitu berat, apalagi jika kita tinggal di Indonesia, di mana banyak orang gemar berkomentar tentang kehidupan pribadi orang lain.

Berikut adalah beberapa komentar/pertanyaan yang PASTI kita jumpai/rasakan:

  1. Kamu Islam kan? Kenapa nggak pake kerudung? Bukannya Islam memerintahkan untuk menutup aurat?
  2. Yakin kamu mau berkerudung? Jangan main copot-pasang lho ya.
  3. Lah bukannya si Anu itu berkerudung ya? Kemarin gue liat dia di mall pake hotpants loh!
  4. Yaelah si Anu mah kerudungan cuma di sekolah/kantor doang. Sekalian aja lepas kerudungnya ketimbang setengah-setengah gitu.
  5. Kok kerudungnya ga syar'i sih? Kenapa masih suka pake skinny jeans? Kalo masih pake pakaian yang seksi-seksi mah ga usah kerudungan dulu.
  6. Si Anu tuh ya, kerudungan cuma buat kedok doang kayaknya. Clubbing mah jalan terus!
  7. Dan seterusnya.
Salah satu teman sekelas saya pernah bertanya ke guru PAI, "Pak, gimana dengan perempuan yang pake kerudungnya cuma pas ke sekolah aja, tapi pas main masih copot kerudung?"
Guru saya menjawab dengan santai, "Loh! Nggak apa-apa! Itu bagus kok! Paling tidak, dia sudah berusaha menyempatkan waktunya beberapa jam untuk menutup auratnya. Seharusnya orang seperti itu jangan kita cibir dong, tapi kita semangati dan kita doakan supaya berkerudung ke manapun dia pergi."

Jawaban itu memang sederhana, tapi saya suka dengan jawaban Pak Guru. Membuat kita yang belum berkerudung jadi termotivasi. Percayalah, lebih banyak muslimah yang memutuskan berkerudung karena disemangati seperti itu ketimbang disuruh. We know that it's our obligation, but it's never an easy step to decide wearing veil. Never.

Ada yang berpendapat bahwa memakai kerudung tidak berkaitan dengan akhlak. You may wear veil and be a bitch. Saya pun masih ada di antara setuju dan tidak, atas pernyataan barusan. Setelah 9 tahun berkerudung, saya sadar masih banyak yang perlu saya perbaiki. Masih suka ngomongin orang? Masih. Masih suka mengeluh? Masih. Masih suka suudzon? Masih. Masih belum cukup sedekahnya? Belum. Tapi, saya kan nggak harus melepas kerudung saya karena masih melakukan hal-hal itu. Kalo berkerudung harus nunggu suci dulu mah, tidak akan ada perempuan berkerudung di muka bumi ini. Kalau memang saya, atau muslimah lain melakukan kesalahan, tolong ingatkan, jangan mencibir.

"Malu kali sama jilbab. Mending lo lepas aja deh."

Saya justru merasa sedih dengan yang berkomentar seperti ini. Bukannya mendukung, kenapa ia justru memprovokasi untuk melepas kerudungnya?

Memutuskan untuk berkerudung itu tidak mudah. Setelah memutuskan untuk berkerudung, kita dihadapkan oleh banyak masalah, misalnya diskriminasi, ekspektasi yang lebih tinggi, maupun batasan atas pilihan-pilihan.

Ketika bersekolah di Bali, sekolah-sekolah negeri memang melarang siswanya untuk mengenakan atribut keagamaan, namun hal ini berlaku untuk seluruh agama dan kepercayaan. Siswa Hindu dilarang mengenakan udeng ke sekolah (hanya gelang upacara yang diperbolehkan), siswa Islam dilarang mengenakan kerudung maupun peci/kopiah, siswa Kristen/Katolik dilarang mengenakan kalung salib, siswa Buddha dilarang mengenakan atribut keagamaan (mohon maaf, saya kurang tahu atribut agama Buddha?). Tapi, setahu saya di sekolah tidak ada siswa yang mengeluh ataupun ribut tentang peraturan sekolah. Kami berpikir, jika memang ingin berkerudung, masih banyak sekolah bagus yang bisa mengakomodasi. Pilihan kami memang terbatas, tapi bukan tidak ada, and we embrace it. Lagipula, tidak ada larangan berkerudung di tempat umum. Bebas, kok.

Batasan untuk memilih pekerjaan? Are you serious? Kadang saya heran dengan orang-orang yang mengeluh tidak diterima bekerja di perusahaan X, karena perusahaan tersebut melarang pegawainya untuk berkerudung. Di lain kesempatan, orang yang sama juga percaya bahwa rezeki sudah diatur oleh Allah SWT. Yaudah sih!

Saya kayaknya selow menghadapi masalah seperti ini. Kalau memang percaya bahwa rezeki itu sudah diatur Allah SWT, ya sudah, terima saja kenyataan bahwa perusahaan itu memang tidak menerima perempuan berkerudung. Masih banyak perusahaan yang tidak menerapkan larangan berkerudung, dan kita tetap punya kesempatan untuk berprestasi. Shine your glow, and your achievement will follow. 

Selow banget, ya?

Anyway, kayaknya tulisan ini udah melenceng ke mana-mana deh, nggak sesuai sama tujuan awalnya (emang tujuannya apa, Suv?), so I will end here. Please let me know your thought about it in anyway possible. Mau lewat komen di sini, chat secara pribadi, mention di Twitter, apapun. 

Satu lagi, terima kasih sudah menyempatkan diri untuk membaca tulisan ini ya. See you in my next thought!






Disclaimer: Tulisan ini berisi opini pribadi saya, pemahaman saya, dan bagaimana saya menginterpretasikannya. Apabila ada yang salah maupun perlu diperbaiki, silakan tuangkan dalam kolom komentar. Anda boleh tidak setuju dengan tulisan ini. Pendapat kita boleh berbeda, namun apabila saya memiliki kesalahan, mohon dibenarkan. Terima kasih telah berkunjung!

Tuesday, 21 February 2017

Unfinished Writing

You have been away from pen and paper for too long, you cannot finish a single piece of writing.
You have been so tired of the world, you cannot even elaborate what you feel into words.
You have been so disappointed, you decide to left it unsaid so you won't have to remember it again.
You have been so angry, you decided to shut the fuck up because you know saying it will not worth it.

Life is so funny, God is so powerful. Every time you think you've done, every time you think you've had enough, God always stretch your limit.

Whenever you think, "I could not be having worse time than this.", God proves you wrong.

I've experienced it right now, to the extent that I think I can no longer hold it. I've had ENOUGH. It's beyond my tolerance, yet I have no other choice than trying to get through it, and wait for every day to pass by. I don't even care about my ambitions. I don't even care about achievement. I just think I've had ENOUGH.

I have loved writing for years; since I was in elementary school. However, I have not write a single blog post since... when.... 2015?

THAT IS PATHETIC.

I write a lot, yet I never finished them. I think a lot, yet I am afraid to throw away my ideas because that's not how my current life works. It's now filled with obeying my bosses, and being in the line, not having a decent chance to improvise or being creative. I'm becoming dull.

I know every individual living in this world must have experienced what I have today. I know that every one must have had their hard times. Yesterday, I chatted with one of my bestfriends and she said very beautifully, "It'd be unfair if we expect people to fully understand us. People go through different difficulties. I've had mine, you've had yours. I'd never experience yours, neither would you. It's a paradox, about who suffer more. You cannot measure suffer."

I know this is not a beautiful piece of writing, but I decided to write anyway.
Sometimes, ugly thing is better because it is done.
Or would you rather have a beautiful but unfinished one?

Wednesday, 23 September 2015

Tentang Mencari Kerja (Part I)

Photo was taken from Google. It's not mine.


Sejatinya saya ingin nulis hal ini sejak tahun lalu, sejak berhasil keterima dalam program pengembangan staf salah satu BUMN. I want to give some tips and tricks on nailing a job selection, but I need to get laid with one first, no?

Temen-temen yang baru lulus kuliah, pasti ngerasa seneng karena berhasil ngelewatin satu fase kehidupan. Sayangnya, rasa senang itu paling cuma bertahan beberapa hari, sebelum akhirnya ngerasa anxious karena harus masuk ke fase kehidupan selanjutnya: MENCARI NAFKAH!!

Postingan saya kali ini terbatas bagi para pencari kerja, lulusan universitas. Lalu, hal-hal apakah yang telah saya alami selama 7 bulan masa menganggur?

Setelah memutuskan untuk tidak melanjutkan kontrak kerja dengan suatu perusahaan, saya memutuskan untuk leyeh-leyeh di rumah sampai hari wisuda. Nggak mikirin apa-apa tentang masa depan, and decided to enjoy the moment. Setelah wisuda, baru kalang kabut dalam hati. Membenarkan segala excuse untuk menunda mencari pekerjaan karena hal itu ternyata cukup menakutkan ketika dihadapi sendirian. Waktu itu, excuse saya adalah, "Karena orang tua nyuruhnya nyari kerja setelah lebaran aja." which is in July. Awalnya sih nikmatin banget masa-masa bebas, eh begitu kerasa nggak punya duit, baru deh panik.

Satu hal yang saya sadari penting dilakukan sebelum memutuskan untuk pergi ke Job Fair adalah: Tentukan Bidang Pekerjaan Yang Kamu Inginkan. Ingat, alasan kita memilih jurusan semasa kuliah? Supaya gampang dapet kerjaan? Karena passion? Lama-kelamaan semuanya akan terasa utopis. Bullshit. Nah, sekarang, get on your own feet and decide what kind of job you want to have, so you won't whine over it forever. Hal ini penting sekali dilakukan supaya kita nggak sembarangan dalam nyebar-nyebar CV di setiap booth yang ada di Job Fair yang kita datangi.

Selanjutnya, jangan lupa untuk Mengecek Tingkat Bonafiditas Perusahaan. Apakah kamu merasa cukup bekerja sebagai karyawan biasa dalam sebuah perusahaan? Atau mau ikut program Management Trainee di perusahaan BUMN? Jangan asal sebar CV ya! Sebelum pergi ke Job Fair, pastikan kamu tahu perusahaan-perusahaan mana saja yang akan kamu lamar, dan cek kebenarannya melalui internet atau sumber lainnya. Ada lho, perusahaan-perusahaan yang pasang booth di Job Fair, tetapi ternyata perusahaan itu sebenernya nggak ada! Kamu dipanggil untuk ikut psikotes atau wawancara, padahal sebenarnya kamu akan digaet sebagai downline. Ya gitu deh, MLM. Saya pernah nyaris 'kena' dua kali. Untungnya, saya tiba-tiba merasa malas datang ke wawancaranya. Setelah saya cek di internet, ternyata perusahaannya nggak ada, dan Google popular search saya menunjukkan kalau perusahaan tersebut penipu. Modus-modusnya juga dijelaskan, kok.

Setelah yakin mau daftar di perusahaan mana dan posisi apa, pastikan kamu tahu Berapa Banyak Surat Lamaran Yang Akan Kamu Sebar. Setiap surat lamaran seharusnya unik (saya akan buat postingan tersendiri tentang ini) dan menunjukkan ketertarikan kamu terhadap perusahaan maupun posisi yang ingin kamu lamar. Nantinya, jika kamu cuma pengen nyebar 7 lamaran, ya sudah, 7 saja, nggak usah bikin 15. Jangan gampang berubah pendirian dan jadi ingin daftar di sembarang perusahaan, nanti kamu sendiri yang repot.

Biasanya tiap perusahaan punya standar berkas yang berbeda-beda. Sebaiknya kita sudah tahu dokumen-dokumen apa saja yang diminta oleh employer. Pastikan bahwa kamu melengkapi semuanya, ya!

Ketika sudah sampai di lokasi Job Fair, pastikan kamu Mengetahui Timeline Seleksi Penerimaan Perusahaan secara lengkap. Tanya aja ke penjaga booth-nya, kapan hasil seleksi administrasinya akan diumumkan, tahapan-tahapan seleksi apa saja yang harus kalian lalui, berapa lama proses seleksinya akan berjalan, dan jika bisa, minta nomor kontak seseorang yang nanti bisa kalian tanyai mengenai masalah rekrutmen tersebut. Jangan sampai lost contact, karena akan merugikan diri sendiri.

Begitu informasi sudah didapat, tanggal-tanggal sudah dicatat, bisa pulang! Atau nongkrong-nongkrong gegayaan dulu, hahahaha. The last but not least, coba didokumentasikan tuh segala-gala yang udah dilakuin, perusahaan mana aja yang udah disisipin lamaran kerja, tanggal berapa harus follow up, tanggal berapa pengumuman, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan job seeking. 

Kayaknya segitu dulu untuk Part I ini. Insyaallah dilanjutkan dengan Part II ya, dalam beberapa hari ke depan. Semoga pencarian kerjanya berhasil. Good luck!


Salam,


Suvi Tan Antara



Wednesday, 22 April 2015

About A Woman Who Has Dreams

Saya baru aja skroling-skroling ask.fm, dan tiba-tiba mendapat inspirasi untuk menulis. Bukan, tulisan ini dibuat bukan karena kemarin Hari Kartini. I should feel proud, of course. Tapi semakin umur saya bertambah, saya jadi berpikir kalau saya nggak butuh memperingati Hari Kartini. Kartini spesial, iya. She’s one of a kind. Hanya saja, secara personal, saya udah ngerasa I don’t need her anymore.

Bicara mengenai gender memang isu sensitif bagi sebagian orang. Ambil satu contoh, seorang perempuan yang karirnya lebih sukses dari suaminya. Mari kita definisikan sukses sebagai ‘memiliki posisi yang lebih prestisius’ maupun ‘gaji yang lebih besar’. Jadi, sebelum kita ngobrol lebih jauh, kita bisa menyamakan persepsi tentang kesuksesan.

Saya pikir, laki-laki modern nggak perlu khawatir kalau wanitanya punya penghasilan lebih besar darinya. A woman who earn much money, knows what she’s dealing with. Wanita seperti itu nggak mencari keamanan finansial dari suaminya. She can support herself, but it’s only because it is her dream. Saya ingin sekaligus meyakinkan laki-laki agar nggak merasa minder jika punya wanita seperti itu. She’s strong, but that doesn’t mean she does not need you.

Saya adalah wanita yang punya mimpi tinggi. I wanna be a writer, I wanna be a great banker. If I could be the next Sri Mulyani, why not? If I can be a best-selling author, why shouldn’t I? Kuncinya adalah agar kita bisa menentukan prioritas, mana yang kita pilih sebagai yang utama.

Di Indonesia, seorang wanita memang masih identik sebagai seorang istri. Menjadi seorang istri, apalagi seorang ibu, adalah mimpi yang amat besar dan mulia. Saya akan angkat topi kepada wanita yang berani mengambil keputusan itu. Being a wife, let alone a mother, is the biggest challenge a woman will ever have. Seorang laki-laki harus bersyukur jika wanitanya mau menjadi seorang full-time wife and mother. 

Saya masih menyayangkan anggapan masyarakat Indonesia bahwa menjadi seorang orang tua tunggal (karena bercerai maupun karena memutuskan untuk tidak menikah), maupun menjadi wanita karir, adalah tidak pantas. Kurang disenangi masyarakat. Setiap orang punya jalannya masing-masing, dan tidak ada orang lain yang berhak menentukan bahwa jalan yang kita ambil adalah benar ataupun salah. Semakin dewasa, kita akan paham norma dan nilai yang berlaku di masyarakat, dan kita punya cara sendiri untuk menyesuaikan diri dengan hal itu.

Saya bercita-cita mengangkat anak suatu hari nanti. Bukan berarti saya tidak ingin melahirkan. It’s just, when I see reality shows (mostly Oprah Winfrey’s Show) and movies which have orphan in them, a piece of my heart dies. Saya nggak bisa membayangkan hidup tanpa tahu siapa orang tua saya, dan bagaimana saya akan makan esok harinya. Mungkin itu alasan kenapa Tuhan menyuruh kita agar bersikap baik kepada anak yatim. Apalagi jika kita masih memiliki orang tua lengkap.

You can have all the money in the world, but you can never be able to buy a set of parents.

Apparently you can make efforts to have children even though you’re on your own.

Well, kayaknya tulisan saya mulai nggak nyambung.

Poin saya adalah, meskipun saya wanita, saya merasa memiliki hak untuk berbuat sesuatu selama hal itu tidak merugikan orang lain. Saya punya suara. 

Ketika membicarakan tentang kesetaraan gender, saya lihat masih banyak yang ribut.

“Katanya emansipasi wanita, terus kenapa masih ada ladies parking?”
“Katanya kesetaraan gender, terus kenapa cewek-cewek masih sering minta ladies first?”
“Katanya perempuan dan laki-laki berdiri sama tinggi, duduk sama rendah, kenapa gerbong kereta perempuan dipisah?”
I mean, of course Kartini did not have a clue about ladies parking and Commuter Line.

Maybe, instead, we need to focus on more important issues rather than those.
World domination maybe?

Friday, 17 April 2015

A Journey to the South Coast of Lampung

Some people are saving money so they can travel the world.
Some people are saving money only God knows why.
Some people are saving money to buy their future house (and home).
Some people are saving money to buy gadget.
Me? (mostly) I save my money so I can buy things I suddenly need (or want). I save money so I feel safe. But I make sure I enjoy spending money as it is hard earning it. I mean, what is the point of having much money but you do not enjoy it, right?

Since I have my own money, I told myself to spend it more on visiting interesting places. They don't have to be tourism places. I spent the week before by visiting my close friends in Palembang, and the following week, my On The Job Training partner invited me to visit some more beaches. Of course I would love to join her, since I myself is a more beach person than mountain person. We then decided to visit Sari Ringgung beach, in the south coast of Lampung. We invited one more person from office and he gladly accompanied us.

Sari Ringgung beach was awesome. Not many people had known about it yet, so the beach was still quite clean, neat, and not crowded. We had to pay 40k IDR in total for three people and one car. You can enjoy snorkeling, riding banana boat, or even kayaking in here. The place was hot, but since it was windy, it was okay.

A Glimpse of Sari Ringgung

Le Me and My OJT Partner
After having some coconut slurpies, we decided to drove away Sari Ringgung and just went around the south coast. The view was astonishing. Have you ever watched Japanese anime where the characters rode their bikes with sea-side view? My scenery looked exactly like that.


Seaside Scenery

Less than three meters only from the beach
What's good in the journey we went into is that there were no garbage (only a very few amount of it). It's so refreshing to see such scenery. I mean, after a five-day-work, it is justifiable for us to enjoy the rest of the week. Go make yourself happy. Eat your favorite food, buy things you want, go to any place you desire, visit somewhere new.

Don't be stingy of your money because you can earn it again. Spend the best of it and make yourself happy, your parents happy, your friends happy. Oh, and always remember to donate. Even though it's only an offer from your cellular provider, even though it's only a donation box in the mosque near your house.




I felt really happy that day! I could see the waves, I saw many happy faces from kids who played with the splashing sea water, parents who whined over their naughty children that run around. I felt happy watching other people do their activities, let alone natives. What's more comforting is that Sari Ringgung is still clean. I am so pissed with people who litter everywhere, anywhere they go. My close friends must have known this character of mine. I get mad over people that litter from their car windows. It's disgusting. I mean, all of us must be able to take care of our own shit. It's easy to do yet people are too lazy to get up and look for a trash bin. My bad habit is that I still prefer water bottle over tumblr.

Well at least, make sure you don't throw your rubbish at tourism places. We have the responsibility to keep it clean, so when you visit it again later, you won't see unpleasant things.

Love the country, love the nature, love ourselves.
Thank you for reading!