Thursday, 5 June 2014

Review Buku: Burlian by Tere-Liye

Gambar didapat dari pencarian Google
Alasan pertama saya tertarik membaca buku ini adalah karena judulnya yang unik. Burlian, Serial Anak-Anak Mamak. 

Saya udah lama nggak baca buku yang menceritakan anak-anak. Terakhir kali mungkin pas baca majalah Bobo punya Panca dan itu sudah lama sekali. Jadi ketika saya nemuin buku ini di toko buku, saya langsung tertarik. Apalagi saya juga memanggil ibu saya dengan sebutan Mamak. 

Sebenarnya saya selalu jengkel dengan cara Tere-Liye bercerita, tapi saya tetap saja membeli buku-bukunya. Tere-Liye seakan nggak ikhlas kalau tokoh-tokoh di dalam bukunya bahagia terus-menerus. Sebagai pribadi yang selalu mengharap kebahagiaan, jelas saja saya jengkel setengah mati sama buku-buku yang ditulis Tere-Liye (yang telah saya baca).

Burlian adalah anak ketiga dari 4 bersaudara. Ia tinggal di Sumatera. Buku ini sebenarnya hanya menceritakan keseharian Burlian dan keluarga serta teman-temannya, tapi saya berhasil tenggelam dalam cerita-ceritanya. Buku ini nggak kayak novel yang punya satu cerita, satu konflik besar yang harus diselesaikan. Buku ini isinya sekumpulan cerita yang tanpa kita sadari berhubungan satu sama lain. Namun, di tiap judul babnya, Tere-Liye punya fokus tersendiri. Beberapa kali saya nyaris menangis membacanya, sebab buku ini sangat menyentuh.

Seperti yang saya bilang, saya jengkel sekali sama Tere-Liye. Beberapa bab awal nyaris tidak ada cerita yang berdampak besar sama alur bukunya, jadi saya agak bosan membaca 75 halaman pertama bukunya. Apalagi, ada satu cerita yang saya harap berakhir bahagia namun ternyata tidak. Bukunya ingin saya banting, saya robek-robek saking jengkelnya. Tere-Liye punya masalah apa sih sampai-sampai bercerita saja akhirnya harus menyedihkan seperti itu?

Tenang aja, bukunya nggak jadi saya banting dan robek-robek.

Beberapa bab setelahnya lebih baik. Tere-Liye kayaknya udah nggak berminat membuat saya menangis sedih lagi. Eh, selanjutnya ia bikin saya nangis lagi. Lebih dari tiga kali, rasanya. Seperti yang selalu saya rasakan setiap baca bukunya, Tere-Liye membuat ceritanya ini berakhir bahagia, tapi selalu ada yang mengganjal. Entah apa.

Menurut saya buku ini bisa dibaca siapa saja, mulai dari anak SD hingga kakek-nenek. Tere-Liye hebat, bisa membuat buku seperti itu. Ceritanya ringan, hanya menggambar keseharian seorang anak kampung, tapi pesan yang disampaikan ada banyak sekali. Tentang tidak pernah menyerah menggapai cita-cita, tentang menurut kepada orang tua, tentang mendapat konsekuensi atas segala perbuatan, tentang rasa ingin tahu seorang anak, tentang keikhlasan, banyak sekali. Semuanya bisa didapat dari hanya satu buku.

Serial Anak-Anak Mamak ini ada empat buku: Burlian, Amelia, Pukat, dan Eliana. Mereka semua anak-anak Mamak. Saya baru baca satu judul, dan pasti akan membaca yang lainnya.

Very recommended. 

No comments:

Post a comment