Saturday, 14 March 2015

To Be Financially Independent

Dalam sebuah wawancara kerja, saya pernah ditanya, "How do you see yourself in five years?" atau, "What is your vision?" 

Saya selalu menjawab seperti ini, "I want to become an independent woman who will be able to take care of herself while contributing to the company she works at. I want to make people happy having me around" yang kemudian saya breakdown satu-persatu. Tujuan pertama saya adalah menjadi seorang perempuan yang mampu mencukupi dirinya sendiri. Nggak minta uang sama orang tua lagi. Alhamdulillah, I successfully achieved that starting from December 24th, 2014. 

Ketika diterima bekerja dan akhirnya merasakan gaji pertama saya, tentu saya merasa senang. Ketika akhirnya bisa mencukupi diri sendiri, saya merasa amaaat lega karena sudah bisa berhenti minta sama Bapak-Mamak. Memang, saya belum bisa rutin kirim uang ke mereka, bahkan untuk menabung pun masih sulit. Hahahaha. I am a very spoiled person, dan boros banget. I spent most of my money going shopping, and eating food. Kadang nggak mikir makan apa, di mana, pokoknya kalo uangnya masih cukup, ayok berangkat!

Emang sih kelihatannya belagu ya. Kadang pun saya masih merasa bersalah menghabiskan uang bulanan itu. Udah punya penghasilan cukup kok malah nggak bisa nabung. I usually calm myself by saying that it is okay to spend my money no matter how much it is, because I earn it by myself. So, stop feeling guilty! Kadang rasanya nyesel, kok nggak bisa ngatur duit, tapi kadang juga bodo amat.

Yang saya rasakan setelah bisa menghidupi diri sendiri itu lega luar biasa. Enak. Nggak ngerasa gak enakan kalo minta uang ke orang tua, mau bokek pun ya ngerasa susah sendiri, nggak nyusahin orang lain. Pusing ya pusing sendiri, nggak bikin pusing orang lain. Punya hutang pun ya nggak usah bawa-bawa orang tua lagi. Segalanya diatur sendiri.

Then I have a new definition of financially independent: A condition where you do not need to think twice before entering a restaurant. Definisi Anda mungkin bisa berbeda ya, itu kan hanya pengertian saya berdasarkan apa yang saya alami selama ini. Saya kadang merasa kesal ketika teman-teman ngajakin main tapi ketika saya ingin bilang "Yuk", eh dompet saya malah menjerit-jerit. Nggak asyik banget pokoknya.

Another thing is that my parents can be financially free from taking care of me. Mereka akhirnya bisa fokus untuk membiayai adik saya yang tahun ini akan masuk SMP. Mereka akhirnya bisa fokus membiayai adik saya ikut les Bahasa Inggris, tanpa perlu pusing mikirin untuk ngirimin Tara uang bulanan.


They know, I can take care of myself. 




Tanjung Karang, Lampung.

No comments:

Post a comment