Monday, 24 July 2017

Cerita Tentang Berkerudung

Saya berumur 25 di tahun 2017 ini. Saya beragama Islam seumur hidup saya, dan telah memutuskan untuk berkerudung sejak tahun 2008. Berarti, sudah 9 tahun saya berkerudung.

Pengalaman berkerudung saya bisa dibilang cukup mudah. Hampir tidak ada yang menjelek-jelekkan saya (paling tidak, secara langsung ke hadapan wajah saya), or simply because I choose to be indifferent of all negative comments. Either way, I am at ease.

Yang orang-orang tahu tapi kebanyakan memilih tidak peduli, adalah fakta bahwa berkerudung itu sebenarnya tidak mudah. Berkerudung bisa saja hanya perihal cara berpakaian, tapi filosofi berkerudung yang diusung seseorang menjadi begitu berat, apalagi jika kita tinggal di Indonesia, di mana banyak orang gemar berkomentar tentang kehidupan pribadi orang lain.

Berikut adalah beberapa komentar/pertanyaan yang PASTI kita jumpai/rasakan:

  1. Kamu Islam kan? Kenapa nggak pake kerudung? Bukannya Islam memerintahkan untuk menutup aurat?
  2. Yakin kamu mau berkerudung? Jangan main copot-pasang lho ya.
  3. Lah bukannya si Anu itu berkerudung ya? Kemarin gue liat dia di mall pake hotpants loh!
  4. Yaelah si Anu mah kerudungan cuma di sekolah/kantor doang. Sekalian aja lepas kerudungnya ketimbang setengah-setengah gitu.
  5. Kok kerudungnya ga syar'i sih? Kenapa masih suka pake skinny jeans? Kalo masih pake pakaian yang seksi-seksi mah ga usah kerudungan dulu.
  6. Si Anu tuh ya, kerudungan cuma buat kedok doang kayaknya. Clubbing mah jalan terus!
  7. Dan seterusnya.
Salah satu teman sekelas saya pernah bertanya ke guru PAI, "Pak, gimana dengan perempuan yang pake kerudungnya cuma pas ke sekolah aja, tapi pas main masih copot kerudung?"
Guru saya menjawab dengan santai, "Loh! Nggak apa-apa! Itu bagus kok! Paling tidak, dia sudah berusaha menyempatkan waktunya beberapa jam untuk menutup auratnya. Seharusnya orang seperti itu jangan kita cibir dong, tapi kita semangati dan kita doakan supaya berkerudung ke manapun dia pergi."

Jawaban itu memang sederhana, tapi saya suka dengan jawaban Pak Guru. Membuat kita yang belum berkerudung jadi termotivasi. Percayalah, lebih banyak muslimah yang memutuskan berkerudung karena disemangati seperti itu ketimbang disuruh. We know that it's our obligation, but it's never an easy step to decide wearing veil. Never.

Ada yang berpendapat bahwa memakai kerudung tidak berkaitan dengan akhlak. You may wear veil and be a bitch. Saya pun masih ada di antara setuju dan tidak, atas pernyataan barusan. Setelah 9 tahun berkerudung, saya sadar masih banyak yang perlu saya perbaiki. Masih suka ngomongin orang? Masih. Masih suka mengeluh? Masih. Masih suka suudzon? Masih. Masih belum cukup sedekahnya? Belum. Tapi, saya kan nggak harus melepas kerudung saya karena masih melakukan hal-hal itu. Kalo berkerudung harus nunggu suci dulu mah, tidak akan ada perempuan berkerudung di muka bumi ini. Kalau memang saya, atau muslimah lain melakukan kesalahan, tolong ingatkan, jangan mencibir.

"Malu kali sama jilbab. Mending lo lepas aja deh."

Saya justru merasa sedih dengan yang berkomentar seperti ini. Bukannya mendukung, kenapa ia justru memprovokasi untuk melepas kerudungnya?

Memutuskan untuk berkerudung itu tidak mudah. Setelah memutuskan untuk berkerudung, kita dihadapkan oleh banyak masalah, misalnya diskriminasi, ekspektasi yang lebih tinggi, maupun batasan atas pilihan-pilihan.

Ketika bersekolah di Bali, sekolah-sekolah negeri memang melarang siswanya untuk mengenakan atribut keagamaan, namun hal ini berlaku untuk seluruh agama dan kepercayaan. Siswa Hindu dilarang mengenakan udeng ke sekolah (hanya gelang upacara yang diperbolehkan), siswa Islam dilarang mengenakan kerudung maupun peci/kopiah, siswa Kristen/Katolik dilarang mengenakan kalung salib, siswa Buddha dilarang mengenakan atribut keagamaan (mohon maaf, saya kurang tahu atribut agama Buddha?). Tapi, setahu saya di sekolah tidak ada siswa yang mengeluh ataupun ribut tentang peraturan sekolah. Kami berpikir, jika memang ingin berkerudung, masih banyak sekolah bagus yang bisa mengakomodasi. Pilihan kami memang terbatas, tapi bukan tidak ada, and we embrace it. Lagipula, tidak ada larangan berkerudung di tempat umum. Bebas, kok.

Batasan untuk memilih pekerjaan? Are you serious? Kadang saya heran dengan orang-orang yang mengeluh tidak diterima bekerja di perusahaan X, karena perusahaan tersebut melarang pegawainya untuk berkerudung. Di lain kesempatan, orang yang sama juga percaya bahwa rezeki sudah diatur oleh Allah SWT. Yaudah sih!

Saya kayaknya selow menghadapi masalah seperti ini. Kalau memang percaya bahwa rezeki itu sudah diatur Allah SWT, ya sudah, terima saja kenyataan bahwa perusahaan itu memang tidak menerima perempuan berkerudung. Masih banyak perusahaan yang tidak menerapkan larangan berkerudung, dan kita tetap punya kesempatan untuk berprestasi. Shine your glow, and your achievement will follow. 

Selow banget, ya?

Anyway, kayaknya tulisan ini udah melenceng ke mana-mana deh, nggak sesuai sama tujuan awalnya (emang tujuannya apa, Suv?), so I will end here. Please let me know your thought about it in anyway possible. Mau lewat komen di sini, chat secara pribadi, mention di Twitter, apapun. 

Satu lagi, terima kasih sudah menyempatkan diri untuk membaca tulisan ini ya. See you in my next thought!






Disclaimer: Tulisan ini berisi opini pribadi saya, pemahaman saya, dan bagaimana saya menginterpretasikannya. Apabila ada yang salah maupun perlu diperbaiki, silakan tuangkan dalam kolom komentar. Anda boleh tidak setuju dengan tulisan ini. Pendapat kita boleh berbeda, namun apabila saya memiliki kesalahan, mohon dibenarkan. Terima kasih telah berkunjung!

No comments:

Post a comment